Pengikut

Minggu, 03 Oktober 2010

Tips Agar Belajar Lebih Benar dan Lebih Menyenangkan

Oleh: Moch Ikhsan Imaduddin

Salah satu kegiatan utama siswa adalah belajar
Hampir setiap hari siswa di tuntut untuk belajar
Belajar yang benar membutuhkan ketrampilan
Ketrampilan dalam mendengar, membaca, menulis
Mencari ,mengolah dan mendengarkan informasi.

Belajar memnuntut adanya kemauan daldiri siswa,
Gabungan antara ketrampilan belajar dkemauan,
membawa belajar lebih benar dan lebih menyenangkan
(Student Now Leader Tomorrow )

Tantangan Masa Datang
Bahwa di masa datang akan terjadi banyak perubahan, kita semua maklum.Berbagai referensi mengungkapkan prakiraan perolehan tersebut. Penggerak perubahan tersebut adalah laju perkembangan ilmu dan teknologi di satu pihak dan keterbatasan sumber-sumber kehidupan di lain pihak, serta adanya dan kemampuan manusia dalam mensiasati perobahan.

Menurut Ramalan (1990) salah satu inovasi iptek yang sangat mengagumkan adalah pengembangan dan penggunaan mikroelektronik yang berupa pengembangan peralatan yang lebih kecil,lebih murah,lebih hemat enersi,lebih hadal, dan lebih berkecepatan tinggi. Di masa dating,dampak pemanfaatan teknologi itu antara lain adalah : a) gaya hidup teknologi canggih dengan tempo yang lebih tinggi semakin meluas akibat dari meluasnya otomatisasi dan meningkatnya pemanfaatan computer pribadi ; b) akibat penggunaan teknologi computer, membawa perubahan pola hubungan di tempat kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat ; c) otomatisasi dan pengendalian jarak jauh akan meningkat menjadikan globalisasi wawasan dan berbagai kegiatan akan meluas dan membawa terjadinya perubahan kebutuhan jumlah dan mutu tenaga kerjaan; d) globalisasi dan saling ketergantungan baik nasional maupun internasional akan meningkat (Parapak, 1990).

Untuk mampu bersaing di era globalisasi, tentu di butuhkan manusia-manusia dengan criteria kualitas tertentu. Tilaar (1990) menyatakan masyarakat global menuntut dan menghargai pada kualitas, inisiatif dan kreatifitas, kerja keras serta produktifitas. Mengacu pada tantangan dunia usaha dan industri di masa dating, Harsono (1998) berpendapat perlunya tenaga yang : a) memiliki jiwa enterprenuer; b) mampu berbahasa inggris dan atau bahasa internasional yang lain; c) memiliki etos kerja yang tinggi dengan ditunjang disiplin diri ; d) tanggap terhadap setiap perkembangan teknologi,arus globalisasi dan informasi; serta e) berwawasan luas sehingga mampu berkiprah dalam komonitas global. Sementara itu dimasa dating bisnis jasa dan informasi dimasa datang tidak hanya akan memerlukan kecerdasan tinggi melainkan juga kearifan manusiawi yang tinggi pula (Soetandyo,1994), untuk itu mereka harus tetap sebagai manusia yang beriman dan berbertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lulusan Universitas Merdeka di masa datang, di samping harus berkemampuan dalam bidang keilmuannya mereka harus pula mampu menjadi “KAKAP BESAR” yaitu Kreatif, Analisis, Kritis, dan berkemampuan meng-Ambil Keputusan. Di samping harus pula mampu Belajar sepanjang hayat, ber- Sikap positif, Aktip-disiplin, dan Rasional, karena :
a) kreatif-analisis-kritis yang merupakan syarat dasar untuk dapat mengoptimalkan fasilitas yang tersedia dalam berbagai teknologi informatika dan computer
b) mampu mengambil keputusan, dengan baik, benar dan bermutu,karena itulah yang menentukan keberhasilan seseorang di dalam kehidupannya.
c) Mampu dan mau membelajarkan diri sendiri sepanjang hayat; agar supaya tangguh dalam menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap perobahan
d) Bersikap positif, bermotifasi tinggi, berkemampuan dalam mendapatkan,mengolah,menggunakan dan menyalurkan informasi karena berbagai informasi iptek berobah dalam waktu yang cepat,untuk itu kemampuan berbahasa (bahasa Inggris khususnya ) dan berkomunikasi merupakan kemampuan dasar yang seharusnya di miliki ;
e) Disiplin, presisi,dan bekerja keras sebagai prasyarat untuk dapat menyesuaikan diri dalam memakai teknologi dan peralatan iptek-informasi masa datang;
f) Berpikir rasional karena iptek (khususnya computer ) bertumpu pada unsure-unsur logika;
Kemudian apa yang dapat dilakukan mahasiswa agar dapat menjadi lulusan dengan kualitas yang seperti itu ?

Tingkatkan Kemauan Belajar
Megahnya ruang belajar, hebatnya kualitas dosen akan tidak berarti bila tidak ada kemampuan belajar dalam diri mahasiswa. Belajar hanya terjadi bila mahasiswa mau belajar (artinya dalam diri maha siswa ada kehendak,ada motifasi, ada kemauan untuk belajar ).

Kehendak belajar akan muncul, apabila mahasiswa mengetahui apa manfaat yang akan di peroleh dari hal yang akan di pelajari. Untuk itu setiap kali akan belajar, ketahui terlebih dahulu apa untungnya mempelajari hal itu. Tanyakan manfaat matabelajar kepada dosen anda. Atau buat, ciptakan sendiri dalam pikiran Anda hal-hal yang menyenangkan yang akan anda dapat dari belajar sesuatu. Misalnya, belajar bahasa inggris,pikirkan manfaat yang akan dapat anda peroleh (dapat lebih banyak manfaatkan informasi internet, sebagai modal ke luar-negeri, punya teman di Amerika, tidak lagi minder, dan lain-lain).

Mengetahui manfaat yang akan didapat, motivasi belajar akan meningkat. Motivasi yang telah muncul, harus diperkuat dengan pikiran yang bersemangat.Untuk itu buatlah aktivitas fisik yang juga bersemangat. Bagaimana mungkin, pikiran akan bersemangat, bila anda duduk loyo, bertopang dagu, bermata sayu. Semangatkan fisik anda.”pasang” mimic muka anda menjadi mimik muka orang paling cerdas, duduklah dengan percaya diri, berdirilah dengan tegap.

Semangatkan pikiran anda melalui gerakan, sikap tubuh, dan mimic wajah yang penuh energi. Bersamaan dengan itu ciptakan lingkungan belajar yang membangkitkan gairah. Bila Anda menyukai, dengarkan musik lembut sambil, pasang foto pacar (atau foto orang tua,atau foto anda sendiri waktu berhasil mendaki gunung semeru ) di meja belajar, buatlah hati anda bangga dan gembira. Pokoknya, tatalah ruang belajar anda semau anda. Yang penting anda makin krasan,gairah dan asyik untuk belajar.

Anda dituntut kreatif,mulailah dari tatanan kamar belajar anda. Anda juga dituntut menjadi seorang yang bersikap positif. Terapkan mulai sekarang. Jangan melihat sesuatu dari segi jeleknya saja, jangan selalu mengeluh (cengeng !), jangan menarik perhatian dengan membuat orang kasihan pada diri Anda. JANGAN! Mulai berpikir dan bertindak positif. Kegagalan (yang boleh terjadi) adalah sukses yang tertunda. Setiap musibah pasti ada hikmahnya. Setiap pribadi pasti mempunyai sisi yang baik dan bermanfaat. Terapkan pikiran rasional: Bahwa yang paling berperan, paling bertanggung jawab, paling mampu untuk merubah kualitas diri, adalah diri sendiri.

Jangan lupa untuk selalu memohon berkenan, bantuan,ijin dalam mencari pengetahuan dan kebijaksanaan dari Yang Maha Berpengetahuan dan Yang Maha Bijaksana. Jangan lupa berdoa Ringkasnya, belajar harus dimulai dari kemauan untuk belajar yang timbul dalam diri. Untuk memunculkan kemauan perlu diketahui apa manfaat yang akan didapat dari hal yang dipelajari. Kemudian tambahkan semangat dan kegembiraan pikiran melalui sikap, perilaku fisik yang penuh enersi dan lingkungan yang menyenangkan. Mulailah bersikap positif, jangan takut gagal, berpikir rasional. Dan jangan lupa selalu memohon bantuan- Nya, melalui doa dan tindakan.

untitled

Tingatkan Keterampilan Belajar
Bertinju tidak cukup bila hanya berbekal semangat (apalagi bonek) tetapi sangat dibutuhkan keterampilan. Demikian juga halnya dengan belajar. Semangat, motivasi dan stamina merupakan modal dasar yang harus dilengkap dengan berbagai ketrampilan (untuk) belajar. Apa keterampilan belajar yang seharusnya dikuasai mahasiswa?

Kegiatan utama dalam belajar adalah mendengar dan membaca informasi. Untuk itu harus dipunyai ketrampilan agar mampu menjadi pendengar dan pembaca yang cerdas dan efektif. Untuk itu diperlukan: keterampilan dalam membuat catatan. Saat ini, sebagian dari anda tampak seperti membuat catatan-catatan. Bila dilihat dari hasil catatan yang anda buat, bermacam-macam model. Ada yang mencatat rapi hal-hal penting, ada yang berupaya mencacat sebanyak mungkin informasi, ada pula yang catatannya seperti coretan dan penuh gambar, dan lain-lain. Model cacatan yang mana yang paling baik untuk anda? Andalah yang dapat menjawabnya.

Namun menurut DePorter dan Hernacki (1992) ada teknik mencatat yang efektif (bahkan dikatakan sebagai teknik mencatat tingkat tinggi ), yaitu menggunakan peta pikiran (atau beberapa referensi disebut sebagai peta kognitif, concept mapping ). Melalui peta pikiran dapat dibuat suatu catatan yang menyeluruh dalam satu halaman. Menggunakan berbagai symbol visual dan tanda-tanda lain,catatan model peta pikiran mampu meningkatkan pemahaman dan ingatan.

Peta pikiran dapat digunakan untuk mencatat apa yang kita dengar,atau mencatat hal-hal yang kit abaca. Dan sangat dianjurkan untuk menyusun ide tulisan/karangan. Di samping menggunakan model peta pikiran,ada banyak cara lain untuk melakukan catatan, seperti misalnya model Catat : TS (lihat Quantum Learning 1992: 162-166), model tulang ikan, model table, model bagan alir dan lain-lain.

Keterampilan belajar lain yang sangat diperlukan adalah : keterampilan menjadi pendengar yang cerdas. Tidak sukar untuk menjadi pendengar yang baik, asal duduk tenang, tersenyum,dan sedikit membuat catatan, kiranya telah dapat disebut pendengar yang baik. Tetapi sekedar menjadi pendengar yang baik tidaklah cukup. Anda harus menjadi pendengar yang cerdas.Ciri pendengar yang cerdas adalah (a) sikap fisiknya mengekspresikan semangat dan perhatian terhadap pembicara, (b) selama pendengar mengupayakan mengkaitkan secara bermakna informasi yang di terima dengan pengetahuan yang telah dipunyai, (c) sambil mendengarkan membuat pertanyaan-pertanyaan terhadap informasi yang didengarnya, dan (d) berupaya untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan Tanya jawab,diskusi atau demontrasi bila dilakukun.

Keterampilan berikut adalah : keterampilan membaca cepat dan akurat. Banyak buku tentang teknik membaca, dan bagaimana meningkatkan kemampuan membaca. Upayakan membaca salah satu di antara buku-buku tersebut. Hal yang dapat dilakukan untuk menjadi pembaca yang efektif adalah : (a) jangan membaca kata-demi kata,bacalah kalimatnya, bacalah gaghasan-gagasannya. (b) baca lebih dulu,secara selintas isi keseluruhan buku atau bab yang akan dibaca, untuk mendapat gambaran umum tentang isi bacaan,gunakan daftar isi, atau ringkasan bila tersedia, (c) gunakan jari atau benda lain sebagai petunjuk, (d) buat catatan-catatan `selama atau pada akhir membaca- gunakan misalnya peta pikiran – dan kemudian rangkumlah isi bacaan dan gunakan pngingat tertentu.

Ketrampilan berkmunikasi, mencari dan menghimpun informasi, merupakan ketrampilan lainuntuk belajar. Ketrampilan ini merupakan gabunga dari (a). Kemampuan memakai sumber-sumberinformasi –perpustakaan, internet, dll, (b). Kemampuan berbahas a, baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing, (c). kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan ,(d). Kerapihan dan keterrtiban dalam menulis dan menyimpan informasi.

Ketrampilan Mengingat, sangatlah penting dalam belajar. Dalam pelajaran banyakkhal yang kita ingat. Karena daya ingat kita tidak sama , berbagai cara kita gunakan untuk mengingat sesuatu. Diantarany yang paling kita kenal adalah penggunaan singkatan /akronim. Banyak cara lain untuk menumbuhkan daya ingat seperti misalnya tempat, waktu, benda dsb.

Ketrampilan bertanya, agar berhasil perlu berani bertanya . Karena dalam pelajaran pasti banyak terdapat banyak hal yang harus dpertanyakandan terlebih lagi tidak ada pertanyaan yang jelek . kemampuan untuk bertanya , memang harus di latih. Untuk itu (a). biasakan membuat 1-2 buah pertanyaan , baik dalam tulisan ataupun langsung di ungkapkan, (b).Himpunlah setiap pertanyaan dan jawaban yang pernah anda dapatdari pelajartn ynag di sampaikan, (c). Cobalah mewnjawab pertanyaan yang diajukan oleh teman –temanmu.

Tentu saja masih banyak ketrampilan belajar lain. Namun apa yang diuraikan diatas adalah ketrampilan penting yang harus di perlajaridan din gunakan sejak saat ini. Jangan malas untuk berlatih , hasilnya memang tidak segera , tetapi pasti. Ringkasnya ketrampilan belajar yang perlu di tingkatkan adalah sebagai gambar berikut ini :
untitled2

Rangkuman

untitled3

Tujuan dari materi ini adalah agar siswa dapat dapat memperoleh pengetahuan yang mampu mendorong sukses belajar. Agar menjadi KAKAP BESAR dan bukan TERI (tersia-sia dan rendah diri), kunci suksesnya gabungkan kemauaan dan ketrampilan belajar dalam setiap belajar anda.

untitled4

Jumat, 20 Agustus 2010

MENGHARGAI ORANG LAIN

Menghargai Orang Lain itu Penting

Senin, 15-02-2010 08:57:09 oleh: Andry Pratama Nata Jaya
Kanal: Opini

Kemajemukan yang ada di Indonesia saat ini tidaklah dapat kita pungkiri. Keanekaragaman suku, budaya, bahasa, warna kulit, serta agama, menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kaya akan warna-warni masyarakat yang ada maupun SDAnya. Namun warna-warni masyarakat yang ada dalam bangsa Indonesia ini apabila tidaklah dapat dijaga dan kesadaran dari setiap masyarakat untuk dapat menghargai kebudayaan maupun kepercayaan orang lain, maka warna-warni tersebut akan menjadi kacau dan bercampur yang menghasilkan warna putih (tidak nampak akan keberbedaan). Apabila warna-warni tersebut dapat saling bekerja sama dengan baik maka dapat menghasilkan suatu karya yang luar biasa yang dapat membuat orang yang melihatnya berdecak kagum.

Sama halnya dengan kegiatan yang ada di sebuah mal di kota Malang dalam rangka Imlek, panitia Imlek tersebut mengumpulkan delman-delman yang ada, dimana delman tersebut dihiasi dengan nuansa Imlek. Hal ini memberikan suatu manfaat yang baik, dimana orang diajar untuk menghargai akan orang lain. Selain tukang kusir ini memanfaatkan momen tersebut untuk mencari nafkah dan sekaligus menjadi suatu obyek hiburan yang mungkin jarang dilihat di hari-hari biasa dan membuat suatu pemandangan keakraban yang indah sekali.

Intinya bagaimana seseorang dapat menghargai orang lain, maka orang lainpun akan menghargai orang tersebut dan akan tercipta suatu kondisi yang harmonis dan nyaman. Tingkatkan terus akan kesadaran menghargai orang lain.

Kamis, 19 Agustus 2010

TUGAS SOSIOLOGI especialy for IBU TITIK SUPARWATI

Memaknakan Lebaran untuk Anak
By Winda
Saturday, 06-October-2007, 08:50:023383 clicksSend this story to a friendPrintable VersionLangganan Artikel Pitoyo Dotcom
Lebaran atau Idulfitri, seringkali hanya menjadi ritual orang dewasa. Kekhusyukan atau kesyahduan berlebaran lebih banyak dirasakan oleh mereka yang sudah aqil baligh (dewasa secara agama). Idulfitri yang mengandung makna sebagai sebuah hari kembalinya kefitrahan manusia, hanya dipahami dan termaknai secara baik oleh mereka yang telah memiliki kemampuan pemahaman (nalar) yang tinggi. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa Idulfitri yang merupakan 'penutup' dari rangkaian ibadah saum, adalah sebuah rangkaian ibadah dalam agama Islam, yang kerap menjadi tumpuan dan harapan setiap Muslim dewasa. Hal yang paling diimpikan dari orang muslim dewasa dari Idulfitri ini adalah ketercapaian keinginannya menjadi manusia bak seorang bayi yang baru lahir, yaitu menjadi orang yang suci-bersih.
Di luar kelompok orang tersebut, secara jelas bahwa ada anak yang dibawah usia aqil baligh, yaitu anak-anak usia dini. Bagi kelompok anak-anak usia dini atau anak-anak yang masih belajar di pendidikan prasekolah dan pendidikan dasar, Lebaran kurang dapat mencapai makna yang sejati. Bahkan, kita sangat yakin mereka tidak tahu arti Idulfitri dan kefitrahan manusia seperti bayi yang baru lahir. BerLebaran, bagi mereka adalah suasana hari yang tidak lebih dari kesan 'selebritis' semata. Arti selebritis di sini bukan kesannya mirip kesan para artis (atau jangan-jangan sama!), melainkan makna Lebaran bagi anak-anak kita yang masih berada di tingkat usia pendidikan pra-sekolah maupun di tingkat pendidikan dasar, lebih banyak memahami dan memaknai Lebaran sebagai pesta sosial, yang penuh keceriaan, gelak tawa, penuh makanan, dan ramai.

Bahkan, untuk tahun-tahun yang lalu, berlebaran adalah bermain petasan, kembang api, dan makan ketupat, serta makan kari ayam. Dari pengalaman seperti itu, maka nilai perayaannya (celebrite) lebih menonjol, dibandingkan dengan nilai kesyahduannya Lebaran sebagai hari fitri.

Pertanyaan kita saat ini, adalah bagaimana ikhtiar kita, baik sebagai seorang kakak, seorang ayah, atau seorang ibu dapat membantu memberikan makna Lebaran yang berharga bagi adik-adik kita yang masih lucu-lucu ini? Bagaimana usaha kita untuk memaknakan Lebaran sebagai hari suci kepada anak usia dini?

Bila kita alpa untuk merenungkan pertanyaan ini, maka sinyalemen di awal tulisan akan semakin terbukti, yaitu anak-anak kita yang kecil, akan lebih memaknai Lebaran hanya sekadar sebuah pesta sosial belaka dan mereka kurang menemukan makna Lebaran yang lebih mendalam, lebih cocok untuk pengembangan pribadinya, dibandingkan dengan memaknai Lebaran sebagai pesta sosial belaka. Oleh karena itu, mau tidak mau, dengan kemampuan yang ada, dan lingkungan sosial yang kita miliki masing-masing, kita memiliki kewajiban memberikan lingkungan pembelajaran sosial kepada anak usia dini, mengenai berLebaran, sehingga anak kita mampu mengangkat 'denyut' makna hari suci.

Perlu ditegaskan di sini bahwa memang benar anak di usia dini, tidak mesti dan bahkan jangan sekali-kali memberikan beban pembelajaran yang tidak patut untuk diberikan kepadanya. Oleh karena itu, anak di usia dini tidak boleh dibebani dengan muatan kepentingan yang aneh-aneh. Dengan kata lain, kalau memang anak-anak kita baru mampu memahami Lebaran sebagai sebuah pesta kebahagiaan, biarkanlah mereka pahami seperti apa adanya. Jika bagi mereka makna Lebaran itu adalah makan ketupat, biarkanlah berkembang seperti itu adanya. Sebab, jika mereka diceramahi tentang makna Lebaran, terlebih lagi diceramahi dengan dalil agama atau kajian ilmiah, mereka akan semakin bengong, bingung dan tidak menyukai datangnya Lebaran.

Hal yang paling penting bagi kita saat ini, adalah memberikan suasana lingkungan Lebaran, sebagai bagian dari usaha sadar orang tua dalam membimbing dan membina tahapan perkembangan anak-anak. Inilah poin penting, dan kesadaran penting yang perlu kita garis bawahi dengan benar. Kita tidak mungkin merubah pesta sosial Lebaran anak-anak. Yang akan kita lakukan, adalah memberikan sentuhan pembelajaran atau sentuhan edukatif kepada anak-anak yang sedang merayakan pesta Lebaran.

Merujuk pada pemahaman seperti itu, dapat dijelaskan kembali bahwa anak usia dini adalah anak usia dini. Mereka bukan anak dewasa yang bisa dijejali dengan sejumlah informasi atau materi pembelajaran yang berat. Karena secara psikologi, bermain -bagi seorang anak usia dini-- merupakan salah satu tugas dalam tahap perkembangannya (development task). Dengan bermain atau metode permainan itu pula, kematangan dan kedewasaan anak kita akan berkembang secara normal dan optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, bagi kita atau orang tua hal yang paling penting itu adalah menciptakan lingkungan sosial sebagai lingkungan belajar yang penuh suasana psikologis yang menyenangkan sesuai dengan tahap perkembangan psikologinya. Usaha ini adalah usaha yang relevan dan sangat mendukung untuk membangun lingkungan pendidikan di rumah bagi anak-anak di usia dini.

Sekadar contoh

Seiring dengan hal tersebut, dalam kesempatan ini, penulis ingin berbagi pengetahuan mengenai usaha atau ikhtiar kita dalam membangun lingkungan keluarga yang relevan untuk penciptaan lingkungan pembelajaran bagi anak di usia dini. Beberapa hal yang dikemukakan di sini, sudah barang tentu, merupakan usaha tambahan belaka, atau penekanan terhadap apa yang biasa kita lakukan selama kita menjalani hari raya Idulfitri (Lebaran). Dengan kata lain, pada dasarnya, apa yang dituturkan dalam wacana ini bukan merubah 180 derajat tradisi Lebaran anak-anak, melainkan hanya menguatkan dan memberikan sentuhan edukatif terhadap tradisi kita selama Lebaran, yang sudah seringkali kita lakukan bersama.

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memberikan pengalaman spiritual dan pengalaman sosial kepada anak usia dini. Dalam hal ini, kata kunci dalam usaha memaknakan Lebaran kepada anak usia ini, adalah memberikan pengalaman nyata kepada anak didik. Usaha memberikan pengalaman nyata, merupakan usaha yang sangat penting bagi penciptaan lingkungan anak usia ini. Bahkan, dapat dikatakan bahwa memaknakan Lebaran kepada anak usia dini, bukanlah dengan cara menceramahi, atau berdiskusi dengan anak usia dini mengenai makna Lebaran, melainkan memberikan pengalaman spiritual atau pengalaman sosial kepada anak didik, mengenai suasana Lebaran.

Pemberian pengalaman nyata ini, dapat dilakukan ketika salat Idulfitri, bersilaturahmi dengan orang tua, sanak saudara, tetangga, atau berziarah ke makam. Rangkaian Lebaran tersebut, merupakan rangkaian sosial yang strategis dan penting untuk meningkatkan penghayatan anak-anak terhadap Lebaran.

Dalam usaha memberikan pengalaman Lebaran ini, kadangkala banyak yang khilaf. Ada beberapa ibu muda (atau ibu yang sudah tua dan mempunyai banyak anak) kerap kali merasa malas untuk mengajak anaknya berjalan-jalan bersilaturahmi ke sanak saudara. Andai pun dirinya mau melakukan silaturahmi, anaknya kerapkali ditinggalkan di pembaringannya. Dalam pandangan penulis, usaha ini merupakan sebuah usaha yang kurang bagus untuk memberikan suasana psikologis dan pengalaman spritiual sekaligus pengalaman sosial bagi anaknya.

Hal yang kedua, seorang ibu atau bapak, juga kakak-kakaknya, perlu lebih banyak memberikan ruang partisipasi anak usia dini untuk mengetahui seluk-beluk atau apa yang ada di sekitar dirinya, ketika dia mengalami dan menjalani rangkaian kegiatan Lebaran. Orang yang lebih dewasa, dituntut untuk banyak bercerita, dalam bahasa Sunda disebut dengan istilah loba baceo menceritakan apa yang sedang terjadi, atau apa yang sedang dilakukan. Sehingga, anak kita ini bukan hanya mengalami dan menjalani rangkaian berLebaran, tetapi juga mengetahui mengenai apa yang dilakukannya.

Untuk sekadar contoh, ketika kita bersilaturahmi ke nenek-kakek, seorang ibu atau siapa pun, perlu menceritakan siapa dan mengapa bersilaturahmi ke orang tua. Ini penting, selain memberikan pembinaan mental dan pengetahuan tentang akhlakul karimah (adab yang baik) juga memberikan pengetahuan, mengenai alasan pentingnya mengunjungi ke orang tua. Sudah barang tentu, memang bahasa yang digunakannya bukanlah bahasa seorang kiai dalam menjelaskan makna shilaturahmi, atau penjelasan seorang guru dalam menerangkan ciri-ciri anak soleh kepada orang tua. Bahasa yang digunakan, sudah barang tentu adalah bahasa yang ringan, sederhana yang sesuai dengan suasana Lebaran saat itu.

Ketika berziarah pun, orang tua banyak yang malas untuk bercerita mengenai 'silsilah keluarga'. Baik ketika di makam, maupun ketika sudah sampai ke rumah, para orang tua tidak banyak yang suka menceritakan silsilah keluarga. Padahal, usaha baceo-nya orang tua ketika berziarah, dapat menumbuhkan kesadaran bersaudara, baik dengan nenek-moyangnya, maupun dengan sanak saudara yang hari (mungkin) masih berjauhan. Dengan usaha menceritakan silsilah keluarga ini, maka anak-anak tidak akan mengalami 'pareumeun obor' mengenai kadangwargi-nya. Dengan kata lain, ziarah kubur bukan hanya bermanfaat untuk menyadarkan seseorang akan 'hari esok' (persiapan kematian), melainkan dapat dijadikan untuk usaha ishlah atau mengurai ulang jalinan persaudaraan atau kekerabatan sanak saudara.

Refleksi akhir

Memberikan pengalaman nyata dan mengajak berdialog anak usia dini, merupakan sebuah upaya meningkatkan partisipasi psikologi anak-anak dalam memahami dan memaknai kejadian hidup atau perilaku dirinya. Baik di lingkungan keluarga, persekolahan maupun di masyarakat, seorang anak perlu diajak untuk mampu menunjukkan partisipasi psikologisnya dalam memahami dan memaknai hidup.

Sekali lagi perlu dikemukakan bahwa kerap kali, orang tua banyak yang khilaf terhadap pentingnya pempartisipasian anak-anak dalam berLebaran. Orang tua banyak yang membiarkan anak-anaknya untuk berLebaran dengan gayanya masing-masing, misalnya bermain petasan atau nonton TV belaka. Sementara usaha untuk berziarah ke makam, atau shilaturahmi ke tetangga dan sanak saudara, lebih banyak dilakukan oleh orang dewasa. Anak-anak mereka lebih banyak dibiarkan dalam suasana hidupnya sendiri.

Alangkah lebih baiknya, para orang tua membawa anak-anaknya untuk berkunjung ke sanak saudara, atau karib kerabat. Bahkan, akan lebih baik lagi, bila mereka bertemu dengan anak-anak yang seusianya, kemudian mereka berinteraksi dengan suasana keanak-anakan. Pertemuan antar anak-anak tersebut, akan bermanfaat bagi proses pendidikan sosial. Bahkan, lebih jauhnya lagi, pertemuan antar anak dalam suasana Lebaran ini, berpotensi sebagai bagian dari proses peningkatan kecerdasan emosional anak didik. Karena dengan bertemu dengan anak seusianya, maka setiap anak akan merasakan 'suasana hidup' Lebaran yang lebih bermakna.

Merujuk terhadap gejala seperti itu, dapat dikatakan bahwa hari raya Lebaran, pada dasarnya merupakan momentum yang tepat bagi orang tua untuk memberikan pembelajaran kecerdasan emosional kepada anak-anaknya. Sehingga, anak-anak ini benar-benar menjadi homo socius atau makhluk yang mampu memahami diri sekaligus mampu bermasyarakat dengan lingkungannya.

Dengan memahami uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahwa suasana Lebaran pada dasarnya sangat potensial sebagai 'pesta sosial' yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, pembinaan dan pembangunan karakter (character building) bagi anak-anak kita, sehingga memiliki kematangan belajar yang bisa dipercepat, dan mampu menunjukkan kematangan hidupnya. Hal yang terpenting bagi orang tua, adalah memberikan ruang pengalaman nyata, baik dengan berkomunikasi maupun dengan pempartisipasian anak dalam berbagai kegiatan Lebaran, sehingga anak memiliki pengalaman berLebaran secara psikologis, kognisi dan sosial. Semakin banyak pengalaman berLebaran anak, maka akan semakin mendukung pada usaha pemaknaan Lebaran pada anak usia dini. Semakin jarang dan jauh, dari pengalaman berLebaran, maka anak-anak hanya akan mampu menangkap Lebaran sebagai pesta petasan, dan makan ketupat. Tidak lebih dari itu.

Winda
Penulis, guru freelance di ar-Rafii Bandung.
sumber : www.pikiran-rakyat.com

antara cinta dan persahabatan

Dua sisi yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Ya, antara Cinta dengan Persahabatan.
Mampukah anda membayangkan Persahabatan tanpa Cinta?

Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik kerana dimana ada Cinta, Persahabatan selalu berada disampingnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan.Pada suatu hari, Persahabatan mula berpikir bahwa Cinta telah membuat dirinya tidak mendapat perhatian lagi karena Persahabatan menganggap Cinta lebih menarik daripada dirinya.

?Hhem mm mm? Seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku akan menjadi lebih terkenal, dan lebih banyak orang memberi perhatian kepadaku.? pikir si Persahabatan. Sejak hari itu, Persahabatan memusuhi Cinta. Ketika Cinta bermain bersama Persahabatan seperti selalu, Persahabatan akan menjauhi Cinta. Apabila Cinta bertanya kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beredar pergi meninggalkan Cinta.

Kesedihan pun menghampiri Cinta dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis. Kesedihan hanya dapat termangu memandang Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul rapat dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian.

Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai.Walaupun Persahabatan cantik, tetapi sifatnya mulai memuakkan.Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai lantaran banyak orang yang menjauhinya. Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang dalam kedukaan.

Dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun meluapkan seribu penyesalannya meninggalkan Cinta.

Dipendekkan cerita, Persahabatan dan Cinta kembali menjadi teman baik. Persahabatan kembali kepada pribadi yang menyenangkan dan Cinta pun kembali tersenyum ceria. Semua orang melihat kembali kedua teman baik itu sebagai berkat dan anugerah dalam kehidupan.

Moral:
Mampukah Persahabatan tanpa Cinta?
Mampukah Cinta tanpa Persahabatan?

Sering kali ditemui banyak orang yang coba memisahkan Persahabatan dan Cinta karena mereka berfikir, ?Kalau Persahabatan sudah disulami dengan Cinta, pasti akan jadi sulit!?. Terutama bagi mereka yang menjalin persahabatan antara seorang pria dan wanita.

Persahabatan merupakan bentuk hubungan yang indah antara manusia, di mana Cinta hadir untuk memberikan senyumnya dan mewarnai Persahabatan. Tanpa Cinta, Persahabatan mungkin akan diisi dengan Kecewa, Benci, Marah dan berbagai hal yang membuat Persahabatan tidak lagi indah. Berhentilah membuat batas antara Cinta dan Persahabatan, biarkan mereka tetap menjadi Teman baik. Yang harus diluruskan adalah Cinta bukanlah perusak Persahabatan, Cinta memperindah persahabatan anda.

Seringkali Cinta cuma dijadikan kambing hitam sebagai perusak sebuah persahabatan. SALAH BESAR !!! Seharusnya dengan adanya Cinta, persahabatan akan semakin menyenangkan. Buat teman-teman yang sedang menjalin Persahabatan. Penuhilah persahabatanmu dengan Cinta, berikanlah Cinta yang terbaik untuk sahabatmu.

Buat teman-teman yang sedang mengalami guncangan dalam persahabatan, jangan salahkan Cinta! Tetapi cobalah perbaiki persahabatanmu dengan cinta karena cinta akan menutupi segala kesalahan, mengampuni dengan mudah dan membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Buat teman-teman yang belum mengerti arti Persahabatan, cobalah memulai sebuah persahabatan. Dengan persahabatan kalian akan semakin dewasa, tidak egois dan belajar untuk mengerti bahwa segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan kita.

Buat teman-teman yang sedang kecewa dengan Persahabatan. Renungkanlah;?
Apakah saya sudah menjalani Persahabatan dengan benar??
Dan cobalah memahami arti persahabatan buat hidupmu. Keinginan, semangat, pengertian, kematangan, kelemahlembutan dan segala hal yang baik akan engkau temui dalam persahabatan.

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Teman-teman yang luar biasa,

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!

Salam sukses luar biasa!!!